BERMAIN LUDRUK ? IHHH…..

by ALDO ARESSA

Saya ingat betul, waktu itu Hari Rabu, tanggal 25 Mei 2011. Saya sedang membawakan sebuah Program Sparkling Smart Surabaya Edisi Khusus Ulang Tahun Kota Surabaya yang ke-718 di Radio Smart FM Surabaya. Ya, saya sebagai host di program itu bersama duet host saya, Didi Cahya. Saat itu Smart FM baru berumur tiga bulan dan radio ini bertekad untuk menggali kearifan lokal budaya Jawa Timur, khususnya Surabaya.  Dan saat HUT Surabaya ke-718 itulah, Smart FM menggelar “Kampoeng Soerobojo-an” yang tentu saja menampilkan berbagai komunitas, jajanan pasar, budaya, dan kesenian tradisional khas Surabaya. Ada Komunitas Roodebrug Soerabaia, Sjarikat Poesaka Soerabaia, Best Friends Project, Kesenian Tandhak Bedhes, hingga Kesenian Tradisional Masyarakat Surabaya, yaitu Ludruk.

Saat itu Smart FM Surabaya mengundang Ludruk ‘Gaul’ Sempalan Surabaya ( LSS ). Seminggu sebelum pentas, saya bertemu dengan seorang pria muda yang namanya HDK di lantai dua di Smart FM Surabaya. Ternyata dia adalah penulis skenario sekaligus kontributor berita untuk LSS. Kami berbincang-bincang dan saya bertanya padanya, “Sampean ini penulis skenario setiap LSS tampil gitu ?” HDK menjawab tidak selalu dia yang menulisnya, tapi sebagian besar naskah dia yang bikin. Dia bercerita sedikit ikhwal dirinya. Bahwa sejak kecil dia memang menyukai ludruk. Bahkan kesukaan HDK pada ludruk mendapat tentangan dari bapaknya. Tapi HDK kecil bertekad keras untuk menekuni dunia kesenian ludruk ini karena dia berkeinginan mengembangkan ludruk tidak hanya berskala lokal Surabaya, tapi menasional. Bahkan dia sempat berujar, “Saya ingin ludruk itu bisa tampil di Suriname karena di sana kan banyak orang Jawa.”

Pas tanggal 25 Mei 2011, tampillah LSS di Program Sparkling Smart Surabaya. LSS tampil lima segmen di program yang berlangsung dari pukul 16.00 hingga 22.00 wib itu. Kelima segmen itu diisi dengan tema dan cerita yang berbeda-beda. Karena program tersebut memperingati HUT Kota Surabaya ke-718 dan dihadiri oleh Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, maka kelima tema yang diangkat pun bercerita tentang Surabaya dan kehidupannya. Dimainkan oleh para dedengkot LSS, di antaranya ada KTT, TTE, dan PNC, maka pertunjukan LSS sangat menghibur dan bikin segar suasana. Terasa Program Sparkling Smart Surabaya sangat meriah dengan hadirnya LSS.

Di sela-sela saya rehat sebagai host dan menyaksikan pentas LSS, datanglah seorang pria mendekati saya dan berkata, “Ayo Mas Aldo, ikut gabung dengan LSS. Jangan hanya berani jadi host. Sekali-kali terima tantangan sebagai pemain ludruk. Pasti nanti dikasih peran-peran ksatria soale awake gedhe dhukur !” Saya melihat pria itu dan memperkenalkan diri -meskipun pria itu sudah tahu nama saya- dan nama pria itu adalah ASH, selaku pimpinan LSS. Dalam hati saya berpikir, “Hmmm…tawaran yang menarik. Kenapa gak ?” Saya melihat ke Didi Cahya dan memberi kode minta tanggapan dia soal tawaran Pak ASH. Didi cuma bilang singkat, “Aku loh gak isok ngludruk !”

Singkat cerita, akhirnya pada Hari Kamis, 22 November 2011 saya datang ke tempat latihan LSS di Gedung Srimulat, THR Surabaya. Waktu itu saya langsung disambut oleh Pak ASH. Melihat kedatangan saya, beberapa pemain LSS tampak surprise. Mereka berpikir, apa iya saya serius mau bergabung dengan LSS ? Lalu Pak ASH mengenalkan saya dengan Mbak RRK. Saat itu Mbak RRK bertindak sebagai sutradara lakon “Sawunggaling” yang akan dipentaskan LSS di Gedung Srimulat, THR Surabaya pada Hari Sabtu, 26 November 2011. Dengan mepetnya waktu, Mbak RRK tanya kepada saya, “Mas Aldo bisa bicara logat Madura ? Soalnya kita butuh karakter Patih Cakraningrat yang berasal dari Madura. Calon pemain sebelumnya mengundurkan diri karena alasan tertentu.” Mendengar tawaran itu, saya langsung bilang, “Bisa !”
Walau saya bukan orang Madura, tapi karena saya tinggal di Surabaya dan banyak orang Madura di Surabaya, yaaa…saya pasti pernah dengarlah mereka berbicara dengan sesamanya.

Tibalah waktunya, Hari Sabtu, tanggal 26 November 2011 LSS pentas di THR Surabaya dengan Lakon “Sawunggaling”. Ini pengalaman pertama saya bermain ludruk di atas panggung dan ditonton oleh umum. Awalnya para personal LSS yang sudah terbiasa tampil bermain ludruk menyangsikan kemampuan saya. Wajar saja mereka berpendapat seperti itu, lha wong saya latihan cuma dua kali, tanggal 22 dan 24 November 2011. Sedangkan mereka berlatih sejak tiga bulan sebelumnya. Tentu Mbak RRK memberikan semangat kepada saya, walau dia sadar waktunya tidak cukup untuk berlatih. “Saya percaya Mas Aldo bisa !” ujarnya memberi semangat. Saya tersenyum bersemangat kepada Mbak RRK. Dalam hati saya berkata kalau main ludruk itu sama dengan akting dan saya sudah punya pengalaman akting sebelumnya di Sinetron Gang Hoky yang ditayangkan BCTV. Jadi, saya yakinkan saya pasti bisa !

Selesai pentas, Mbak RRK memberi ucapan selamat kepada saya. “Terimakasih Mas Aldo. Sukses. Suami saya bilang, ‘Hloh itu kan Mas Aldo yang di Smart FM toh ?’ Saya bilang iya. Dia bilang lagi, ‘Mas Aldo itu orangnya unik dan tadi penampilannya bagus sebagai Patih Cakraningrat, pas dengan posturnya.'” Saya senang karena performa saya dinilai bagus, tapi lebih senang lagi karena pementasan Sawunggaling sukses, terutama buat saya yang baru pertamakali main ludruk. 😉

Selanjutnya, setiap latihan LSS Hari Selasa malam, saya usahakan untuk ikut. Melihat saya rajin mengikuti latihan ini, beberapa teman LSS tanya kepada saya, “Mas Aldo kenapa mau bermain ludruk ? Bayarannya gak gede loh, Mas. Lagian penampilan Mas Aldo itu metro banget. Cassingnya Mas Aldo itu mahal. Apa Mas Aldo gak gengsi ? Ludruk itu kan kesenian buat orang bawah. Ludruk itu kan menjijikkan. Orangnya kasar-kasar, sedang Mas Aldo ajah ngomong kasar gak pernah.” Dan masih banyak pertanyaan lainnya.

Saya jelaskan kepada teman-teman LSS, kalau tujuan saya hanya cari duit di LSS, maka cukup sekali itu saja saya main ludruk. Jelas-jelas duitnya gak banyak. Sekali main cuma dibayar…-kasih tau gak yaaa…- yang tentu saja buat makan di resto gak cukup. Kalau saya berpikir bahwa ludruk itu kesenian kelas bawah dan menjijikkan, cukup saat itu saja saya bergabung bersama LSS. Bagi saya, ludruk tidak sekadar kesenian tradisional masyarakat Surabaya, tapi ludruk juga merupakan ajang pembelajaran banyak hal. Saya jadi tahu tentang kesenian ludruk itu sendiri, saya jadi tahu tentang lakon-lakon tradisional yang sering dipentaskan dalam kesenian ludruk, saya jadi banyak teman dan banyak channel, saya jadi tahu tokoh-tokoh seni tradisional, dan satu hal lagi, ludruk juga bagian dari seni teatrikal, dimana setiap pemain ludruk dituntut untuk meningkatkan kemampuan aktingnya agar hasilnya lebih optimal dan bisa dinikmati penonton. Jadi, saya juga bisa mendapatkan ilmu akting yang bermanfaat di sini !

Ketika saya sounding ke teman-teman saya nyoal saya main ludruk, reaksi mereka bermacam-macam. Ada yang cekikikan, ada yang heran alias gak percaya, bahkan ada yang komentar, “Gak salah neh, temen gue main ludruk ? Iiiihhh….!”
Dan saya timpalin, “Ciyus nyapah ?”
Mereka berpendapat rasanya gak cocok kalau saya main ludruk, sementara penampilan dan gaya hidup saya metroseksual. Yang biasa makan di kafe, resto, atau tempat-tempat yang menyenangkan lainnya. Ya, saya bersyukur karena selama ini saya bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan saya. Kalaupun saya dicap sebagai pria metroseksual, dandy, perlente, dan sejenisnya, itu bukan menjadi soal buat saya. Yaaahhh…itulah saya. Tapi dalam berkesenian, semua itu tidak ada korelasinya. Passion saya memang di dunia seni dan hiburan. Dan saya sudah tunjukkan kepada teman-teman LSS bahwa saya memang benar-benar menikmati bermain ludruk. Terbukti sudah dua kali saya tampil di lakon yang dipentaskan LSS. Yang pertama “Sawunggaling” dan yang kedua ” Roro Jonggrang Wajah Seribu Arca”. Mudah-mudahan saya juga akan bermain di lakon ketiga “Ujung Galuh” tentunya di pementasan berikutnya. Bukan begitu, Pak ASH ? 🙂

sda|mg|04112012|15.58

Iklan