MENGAPA KILAT KADANG MENGHASILKAN BUNYI PETIR YANG MENGGELEGAR, KADANG HANYA GEMURUH GURUH ?

by ALDO ARESSA

Sebuah kilat membelah udara dengan kecepatan luar biasa tinggi. Itu sebabnya ada istilah “secepat kilat.” Panas yang tiba-tiba menyeruak -sekitar puluhan ribu derajat- membuat udara di sekitar berubah menjadi putih terang. Dalam kejadian itu udara di sepanjang lintasan memuai pada kecepatan sangat tinggi, namun sesaat kemudian langsung menjadi dingin dan menyusut setelah kembali ke temperatur dan tekanan normal. Udara yang bergerak begitu tiba-tiba menghasilkan getaran-getaran dahsyat dan itulah gelombang bunyi, gelombang tekanan bervariasi yang merambat melalui udara. Alhasil, terdengarlah bunyi halilintar atau guruh.

Guruh atau petir berjalan dengan kecepatan bunyi, tetapi cahaya berjalan hampir sejuta kali lebih cepat dibandingkan bunyi. Sebab itu, terlihat sambaran kilat hampir dalam sekejap dan tidak langsung terdengar bunyi sang halilintar hingga bunyinya tiba di telinga kita. Bunyi tidak selalu melaju dengan kecepatan yang sama. Itu tergantung pada medium perambatannya.

Gelombang bunyi memerlukan waktu lebih lama jika dilewatkan ke suatu zat dengan molekul-molekul yang saling berjauhan, seperti di udara. Bunyi merambat melalui udara dengan kecepatan 1.400 km/jam di permukaan laut dan pada temperatur kamar. Di air, molekul-molekul jauh lebih rapat, maka bunyi dapat merambat dengan akselerasi 5.300 km/jam. Sedang pada zat padat, misalnya baja, bunyi merambat dengan kecepatan 21.000 km/jam.

Bayangkan, ketika petir menyambar pohon kelapa dekat rumah Anda, yang terdengar paling kuat adalah bunyi menggelegar sangat keras, tajam, dan berfrekuensi tinggi. Namun apabila petir bersahut-sahutan di tempat yang jauh, hanya akan terdengar bunyi gemuruh berfrekuensi rendah. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah bunyi frekuensi rendah merambat lebih jauh daripada bunyi frekuensi tinggi yang cenderung diserap lebih cepat selama perjalanan.

Itu sebabnya bunyi-bunyi frekuensi rendah dapat menempuh jarak lebih jauh daripada bunyi tajam petir yang berfrekuensi tinggi. Makin jauh kita dari sumber petir, makin rendah bunyi yang sampai ke telinga kita.

Gemuruh guruh tidak hanya bernada tinggi atau rendah, namun kombinasi keduanya. Itu karena kilat sendiri terjadi pada jarak yang berbeda-beda dari Anda. Pusat kilat mungkin sekian kilometer jauhnya dari tempat Anda, tetapi cabang-cabang besarnya juga merentang jauh sekali, maka setiap bagian pada kilat mempunyai jarak berbeda-beda dari Anda, makanya Anda mendengar bunyi-bunyi dengan beragam frekuensi.

Anda juga pasti pernah mendengar bunyi guruh yang bergulung-gulung, terkadang cukup panjang. Ada dua alasan untuk itu. Pertama, bunyi menempuh perjalanan dari jarak berbeda-beda antara pusat kilat dan cabang-cabangnya. Kedua, bunyi itu bergema di sepanjang perjalanan.

Sumber : KALO EINSTEIN LAGI CUKURAN NGOBROLIN APA YA ?
Penulis : ROBERT L. WOLKE
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama ( Januari 2005 )

sda|jm|02112012|22.31

Iklan